Indonesia masih jauh dari target pengurangan gas rumah kaca

Indonesia masih jauh dari target pengurangan gas rumah kaca. Indonesia masih memiliki jalan panjang untuk mencapai target pengurangan emisi karbonnya karena upaya untuk memerangi perubahan iklim sedang terhambat di tingkat regional, sebuah analisis dari World Resources Institute (WRI) Indonesia menunjukkan.

Agen judi slot online – Pada 2013, Indonesia baru mencapai 2,25 persen dari total target pengurangan emisi karbon di tingkat provinsi, yang akan dicapai pada 2020, menurut analisis WRI pada berbagai data pemerintah.

“Melihat bagaimana Indonesia hanya memiliki empat tahun tersisa, provinsi harus mendorong implementasi yang lebih baik [dalam program mitigasi perubahan iklim] untuk memenuhi target pada tahun 2020,” kata koordinator program iklim WRI Indonesia Andhyta F. Utami.

WRI Indonesia hadir dengan angka tersebut dengan menggunakan judi slot online evaluasi pengurangan emisi karbon dan dokumentasi pemantauan dari 34 provinsi, yang diserahkan ke Rencana Aksi Nasional Pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) di Sekretariat Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Setelah itu, WRI Indonesia membandingkan total pengurangan emisi yang telah dicapai semua provinsi dengan komitmen yang ditetapkan dalam peraturan gubernur tentang rencana aksi provinsi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Jika data ini akurat, maka kita harus mengimplementasikan program pengurangan karbon dengan lebih baik. Tetapi jika itu salah, maka perlu ada pemantauan yang lebih baik dari implementasi program, “kata Andhyta.

Sementara itu, analisis Bappenas menunjukkan bahwa Indonesia berhasil mengurangi emisi karbonnya sebesar 15,5 persen dari 2010 hingga 2015. Indonesia menargetkan pengurangan emisi 29 persen pada tahun 2030.

Menurut analisis WRI Indonesia, ada banyak kontradiksi antara program pembangunan pemerintah daerah dan program pengurangan gas rumah kaca mereka.

Misalnya, peta jalan pengembangan Kalimantan Barat berisi target peningkatan konsumsi sumber daya mineral, sementara Jawa Timur bertujuan untuk meningkatkan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi untuk mengembangkan sumber daya pertambangan dan mineral.

“Prioritas pembangunan di kedua provinsi ini bertentangan dengan proposal mitigasi perubahan iklim, seperti melindungi hutan yang tersisa dan reboisasi. Mereka perlu menemukan cara untuk menyeimbangkan rencana pembangunan mereka dengan upaya pengurangan emisi, yang saling bertentangan, ”kata Andhyta.

Di antara semua provinsi, Sumatera Utara memiliki jumlah emisi karbon tertinggi pada 2010, yang menghasilkan 260 juta ton CO2. Diikuti oleh Riau, Jawa Timur, Kalimantan Tengah dan Lampung sebagai provinsi dengan emisi gas rumah kaca tertinggi.

“Sumber utama emisi di provinsi-provinsi itu beragam, dari pertanian, kehutanan, energi, transportasi, industri, dan limbah,” kata Andhyta.

Namun, Papua, salah satu provinsi di indonesia masih yang paling terbelakang di negara ini, memiliki emisi karbon per kapita tertinggi, dengan lebih dari 80 juta ton CO2 per 1.000 orang. Sementara itu, Sumatera Utara menempati urutan keempat dalam hal emisi karbon per kapita, dengan 20 juta ton CO2 per 1.000 orang. Emisi per kapita dihitung dengan membagi total emisi karbon dengan total populasi.

“Ini berarti bahwa setiap orang di Papua bertanggung jawab atas lebih banyak emisi daripada orang di Sumatera Utara. Ini menunjukkan bahwa setiap individu harus memiliki rasa tanggung jawab, ”kata direktur negara WRI Indonesia Tjokorda Nirarta Samadhi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *